oktaviawinarti.com

7 Kata-Kata Bijak Untuk Diri Sendiri, Ibu-ibu Wajib Baca

Konten [Tampil]
kata-kata bijak untuk diri sendiri

Melihat banyaknya fenomena di alam raya ini membuat otak kita jadi penuh atau overwhelmed. Terkadang bikin kita jadi nggak mood ngerjain sesuatu. Saya pribadi terbiasa untuk menanamkan beberapa kata-kata bijak atau motivasi untuk diri sendiri agar tidak mudah terpengaruh dengan berbagai macam informasi yang masuk.

Kata-kata ajaib ini selain merupakan kata-kata bijak, juga menjadi penyemangat untuk diri sendiri. Sebagai manusia kita pasti pernah khilaf atau tidak sengaja berbuat kesalahan, sehingga kita perlu memaafkan diri sendiri dan move on dari keadaan.

Menanamkan kata-kata bijak juga merupakan salah satu bentuk afirmasi positif untuk diri sendiri. Kata-kata yang kita sematkan pada diri sendiri, membuat alam bawah sadar kita bekerja sebagaimana kita ucapkan. 

Mudahnya akses untuk mencari informasi kadang membuat kita jadi terpedaya, algoritma media sosial juga membuat kita betah berlama-lama untuk scrolling medsos. Sehingga tak ubahnya memberikan pengaruh bagi mental dan psikis. Dan itu menjadi tantangan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Hal yang paling sering terjadi adalah membandingkan pencapaian orang lain dengan pencapaian diri sendiri. Kita jadi semakin insecure, rendah diri, self esteem rendah, merasa diri nggak berprestasi. Maka itu, kita perlu membentengi diri dengan afirmasi positif dalam diri. Menggaungkan kata-kata positif yang mampu membuat kita berdaya. Tidak melulu menyalahkan bahkan melukai diri sendiri.

Berikut ini Saya akan spill beberapa kata-kata bijak nan positif yang wajib ada dalam list kata-kata bijak untuk Sobi semuanya di sini. Teruama emak-emak berdaster yang pastinya selalu jadi sasaran empuk untuk disindir, dipandang sebelah mata, dipojokkan dengan 'status IRT-nya', dan segala bentuk bully-an. 

Kata-Kata Bijak untuk Diri Sendiri

1. Cintai masalah,ubah masalah jadi solusi

Masalah ada dalam kehidupan untuk kita hadapi. Nggak ada orang yang nggak punya masalah di dunia ini. Pasti selalu ada masalah yang menghampiri. Apapun peran yang kita jalani saat ini, pasti selalu ada cobaan yang datang. Kita perlu bersiap diri.

Kata-kata ini biasa Saya ucapkan untuk menenangkan diri. Karena masalah itu adalah ujian keimanan. Kita diberikan challenge agar kita naik peringkat jadi hamba yang lebih bertakwa di sisiNya. Maka hal pertama yang perlu dicamkan ketika mendapat masalah adalah belajar menerima dan mencintai masalah.

Jadikan masalah sebagai teman. Anggap masalah sebagai ladang untuk bertumbuh menjadi versi terbaik diri sendiri. Jangan rendahkan standar kita kalau kita ingin menjadi hambar terbaik di sisi Allah. Tunjukkan sikap bahwa kita bisa menghadapi ini dengan pertolongan Allah. Allah yang memberikan kita masalah agar kita sadar bahwa ujian itu meningkatkan derajat kita di akhirat.

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji?" (QS Al-Ankabut: 2)

2. Jangan marah, bagimu syurga

Sebagai ibu, kita tentu pernah berada di kondisi lelah secara fisik dan mental sehingga pesan yang sampai di luar diri kita adalah marah-marah atau ndumel. Entah karena kelakuan suami atau anak-anak dan berbagai hal yang memicu stress. 

Dalama sebuah ayat, Allah menjelaskan bahwa Ia mencintai orang-orang yang bisa menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. 

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ …

"Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS Ali Imran:134)

Sebenarnya kata-kata 'jangan marah, bagimu syurga' datang dari seorang penyair. Hadist shahih yang Saya pahami adalah ketika seorang sahabat nabi datang meminta nasihat kepadanya. Dan Nabi bilang "Jangan marah", redaksi hadistnya Saya kutip dari Rumaysho.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau menjawab, “Janganlah engkau marah.” Lelaki itu mengulang-ulang permintaannya, (namun) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (selalu) menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 6116]

Faedahnya adalah kita perlu untuk menahan diri ketika ada sebab yang membuat kita marah, sampai di kondisi kita tidak marah (hilang rasa marahnya). Kemudian jangan di-follow up marahnya lebih baik bersabar, menahan diri terlebih dahulu.

Agar kita terhindar dari marah, maka kita perlu mendeteksi terlebih dahulu penyebabnya. Apakah kita marah karena anak menumpahkan makanan atau minuman? Apakah kita marah karena anak tidak menurut ketika diminta untuk mandi? Semua penyebab itu perlu kita cari tahu. 

Kalau kita sudah tahu, kita perlu membuat catatan untuk diri sendiri atau membuat simulasi.  Kalau bahasa ilmiahnya membuat mitigasi atau pencegahan agar ketika mengalami hal serupa kita tahu harus berbuat apa. 

Ketika akan marah, usahakan untuk menerima emosi yang hadir dengan sadar nafas dan ucapkan kalimat istighfar. Itu merupakan bagian dari mindfulness. Sadar bahwa kita tengah emosi, kita perlu mengalirkannya dengan tepat, yaitu dengan mengingat Allah. 

Related: Sebuah Keluarga: Tempat Pulang, Berlindung, dan Berbagi Kehangatan

3. Sesudah kesulitan itu ada kemudahan

Tentu kata-kata ini menjadi nge-trend di kalangan pemuda atau ibu-ibu yang sedang hijrah. Buat Saya pribadi, ini merupakan janji yang Allah sampaikan kepada hamba yang tengah diberi ujian dan percaya bahwa pertolongan Allah itu nyata. 

Kata-kata dalam Surah Al-Insyirah ayat 6 ini bisa membuat kita sebagai muslimah legowo ketika mendapat kesulitan. Mungkin kurang lebih sama seperti tips pertama tentang menghadapi masalah. Kita perlu berkaca pada kesulitan yang tengah menghampiri kita.

Apakah itu merupakan pertanda bahwa Allah ingin kita lebih mendekat kepadaNya karena keimanan kita sedang jomplang? Apakah kesulitan itu merupakan hukuman? Apakah kesulitan itu bagian dari tanda bahwa kita kurang sedekah ? Silahkan refleksikan itu semua ke dalam hidup masing-masing.

4. Man Jada Wajadda, Barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil

Siapa yang nggak kenal dengan kata-kata ajaib ini? Saya benar-benar suka dengan kalimat Man Jada Wajadda sejak SMP, ketika membaca novel yang berjudul Negeri 5 Menara. Saya sangat terkesan dengan kisah inspiratif yang ditulis oleh Ahmad Fuadi sehingga kata-kata ini selalu terngiang di kepala Saya.

Seperti anak SMP pada umumnya, Saya masih labil dan keras kepala. Saya memiliki keinginan yang kuat untuk masuk salah satu SMA terbaik di Banten. Saya menggambarkan kehidupan pesantaren yang mirip seperti di novel. Wkwk Saya bahagia karena lolos sampai tahap akhir dari proses seleksi masuk SMA tersebut. Tapi sayang, nama Saya tidak tercantum di pengumuman terakhir peserta yang diterima.

Tapi mantra itu membuat Saya sadar bahwa siapapun yang bersungguh-sungguh, Allah akan balas kesungguhannya itu dengan kebaikan yang bekali-kali lipat. Meskipun itu bukanlah hal yang kita inginkan atau yang belum terbayang sebelumnya.

Saya bersyukur sebab dengan itu, Saya bisa tumbuh seperti sekarang. Saya masuk SMA lain yang mempertemukan Saya dengan saudara muslim di Ikatan Remaja Masjid (IRMAS Al-Kautsar). Itu merupakan hijrah pertama Saya, ketika makna Islam masih sangat asing bagi kehidupan Saya kala itu.

5. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan


Kenapa ayat ke-46 dari Surah Al-Kahfi ini menjadi kata-kata bijak dan membuat Aku semangat menjalani hidup? Karena Allah memberikan suatu perumpamaan yang sangat indah. Ia menciptakan harta dan anak-anak sebagai ujian kita para orang tua agar tidak terlalu 'eman-eman' karena mereka hanyalah titipan.

Harta dan anak-anak adalah fitnah dunia, yang dengan nya kita diuji dengan kesenangan dan berbangga diri. sedangkan amalan shalih adalah keuntungan akhirat. Harta dan anak-anak disebut sebagai perhiasan dunia karena dari harta seseorang mendaparkan keindahan dan kemanfaatan, sedangkan dari anak-anak ia mendapatkan kekuatan dan dukungan, itulah makanya disebut sebagai perhiasan dunia.

Dalam ayat penyebutan harta didahulukan sebelum penyebutan anak-anak. Hal itu karena harta lebih utama dalam pikiran sebagian besar manusia dan karena disukai oleh semua kalangan dari yang kecil sampai yang besar, muda dan tua.

Berdasarkan tafsir Al-Mukhtashar, Di akhirat kelak, harta tersebut tidak memberikan manfaat sama sekali kecuali ketika di dunia digunakan untuk hal-hal yang diridai Allah. Semua amalan dan ucapan yang diridai di sisi Allah itulah yang lebih baik dari seluruh perhiasan dunia. Karena perhiasan dunia itu tidak kekal, sedangkan pahala amalan dan ucapan yang diridai di sisi Allah bersifat kekal.

Hal ini menjadi pelajaran untuk selalu mengutamakan amal-amal shalih yang sifatnya kekal, tidak melulu memandang perhiasan dunia itu sebagai yang utama. Kita jadi tidak mudah stress ketika dibenturkan dengan masalah yang berhubungan dengan harta dan anak-anak. Allah telah menenangkan hati kita lewa ayat ini.

Related: Mbak Etha, Seorang Mualaf yang Hobi Menulis

6. Ibu adalah sebuah madrasah yang jika kamu menyiapkannya, berarti kamu menyiapkan lahirnya sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya

Saya termotivasi dengan kata-kata ini karena rahim seorang ibu adalah cikal bakal akan lahirnya sebuah peradaban. Ketika kaum ibu terdidik, memiliki kualitas yang baik, maka akan lahir generasi yang baik dan unggul dari segi akhlak (budi pekerti) dan wawasannya.

Ikhtiar Saya untuk terus memperbaiki diri dengan mempelajari ilmu pengasuhan, ilmu agama, dan ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan generasi yang islami. Saya tidak ingin anak-anak terlahir tanpa memiliki role model yang baik dari dalam rumahnya.

Ibu adalah madrasatul ula', madrasah pertama untuk anak-anaknya. Jika Saya mempersiapkan diri menjadi ibu yang berdaya dan merdeka, mau belajar sesuai tuntutan zaman. Maka Saya juga tengah mempersiapkan anak-anak Saya kelak agar menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak. 

7. Menjadi ibu yang sempurna itu angan-angan yang tidak akan pernah bisa kita gapai. Kita nelangsa. Buat apa capek- capek dan sibuk menjadi apa yang orang lain inginkan?

Ini adalah penggalan curhatan Saya di artikel suka duka jadi new mom yang bisa jadi motivasi untuk diri sendiri ketika gamang atau merasa bersalah, 'Aku ini ibu macam apa kayak gini aja nggak bisa'. Kayaknya itu sempat terlintas juga ya di pikiran Sobi ketika baru menjalani peran menjadi ibu. Serba salah, serba bingung harus apa.

Banyak tuntutan di sana-sini, merasa nggak becus karena selalu dibandingkan dengan emak-emak yang sudah fasih memainkan perannya. Berjuta-juta pikiran yang sebenarnya nggak perlu dan hanya akan menjadi beban yang bikin kita nggak berdaya.

Maka itu, kita perlu menjadi diri kita sendiri. Jangan berhenti untuk belajar, mengasah keterampilan, dan berlatih agar menjadi ibu yang cekatan.

Nah.. jadi itulah 7 kata-kata bijak untuk diri sendiri. Kata-kata ini adalah pesan untuk Saya pribadi yang cepet tantrum kalau tangki cintanya kosong. Supaya tetap bersyukur dalam kondisi apapun. Meskipun banyak halangan dan rintangan menghadang di depan. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi untuk menemani hari-hari Sobi.




2. 

Related Posts

Post a Comment