oktaviawinarti.com

Aurel Melahirkan, Aku: Flashback Suka Duka Jadi New Mom

5 comments
Konten [Tampil]
Aurel Melahirkan, Aku: Flashback Suka Duka Jadi New Mom

Hai Assalamu’alaykum!
Sobi, udah pada tahu kan kalau Aurel melahirkan putri pertamanya? Tepat pada hari Senin, 21 Februari 2022 pasangan Aurel dan Atta Halilintar diberikan anugerah oleh Allah dengan kelahiran seorang bayi cantik yang mereka namakan baby A! Masyaa Allah..

Good News! Aurel Melahirkan

Anak Anang Hermansyah ini dikabarkan melahirkan putrinya dengan cara operasi caesar. Sebelum proses persalinan, Aurel sempat mencurahkan isi hatinya tentang operasi caesar yang akan dijalaninya.

Disadur dari Channel Aurelie Atta yang diunggah 13 jam yang lalu, Aurel mengungkapkan bahwa apapun cara persalinan yang ditempuh baik itu normal atau caesar, Ia berdoa semoga itu adalah keputusan terbaik. Karena setelah berkonsultasi dengan Obsgyn, operasi caesar merupakan pilihan terbaik dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan Aurel.

Masyaa Allah.. keren banget ya Aurel. Meskipun beberapa waktu belakangan pilihannya ini sempat santer diberitakan di berbagai media, Ia tetap teguh pendirian dan meyakinkan diri bahwa semua ini takdir yang dipilihkan Allah untuknya dan Atta.

Mendengar berita ini, Saya langsung flashback masa-masa ketika baru menjadi new mom. Banyak banget suka duka, tangis tawa, marah sayang, dan berjuta rasa yang hadir mewarnai kehidupan pasca persalinan.

Menjadi New Mom itu...

Kayaknya kalau bahas topik satu ini bakalan mrembes mili deh hehe. Saya mau sedikit bercerita dan mengeluarkan uneg-uneg tentang “how to become a mother?”

Kayaknya ungkapan 'menjadi seorang ibu itu tidak mudah' terdengar klise. Kenyataannya memang menjadi ibu dengan standar yang diharapkan oleh orang lain jauh lebih susah ketimbang ekspektasi diri sendiri.

Sebelum lebih jauh, Saya ingin menyampaikan uneg-uneg seputar apa yang sedang Saya alami baru-baru ini. Jadi, Saya dapat pesan singkat dari kakak sepupu yang tinggal nggak jauh dari domisili Saya saat ini.

Pesannya kurang lebih begini:
"Okta masih menyusui nggak? Biasa pumping ASI? Boleh minta tolong nggak ya Ta. Aku udah nggak bisa meng-ASI-hi karena ada masalah kesehatan. Udah sebulan ini Baby-ku minum susu formula."
Jadi, dari pesan itu sebetulnya sepupu Saya lagi butuh ASIP untuk kebutuhan makan bayinya yang baru berusia 2 bulan. Saya sebagai seorang perempuan juga ibu merasa iba setelah mengetahui alasan dibaliknya. Kakak sepupu Saya sedang mengalami masa adaptasi yang sulit.

Dia adalah ibu baru yang juga working mom. Di saat anak pertamanya lahir dan sangat dia nanti-nantikan, dia masih harus bekerja work from office (WFO). Saya nggak bisa membayangkan betapa struggle-nya dia menghadapi situasi itu. Tapi itulah keputusan yang diambil, konsekuensi menjadi ibu baru sekaligus wanita karier menjadi tanggung jawabnya.

Saya merasakan kesedihan yang dipancarkan lewat pesan tertulis di chat Whatsapp-nya. Sungguh bukan keputusan yang mudah untuk merawat newborn sambil bekerja. Pasti butuh fokus yang lebih. Butuh kondisi fisik dan jiwa yang tenang menghadapi problema yang datang dari dalam dan luar rumah.


Hikmah Menjadi New Mom

Merasakan apa yang tengah dihadapi oleh kakak sepupu itu, membuat Saya merenungkan peran diri sebagai full time mom. Apakah Saya sudah menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga yang benar? Hmm..sepertinya masih jauh dari kata baik. Masih banyak PR Saya untuk menuntaskan tugas serta peran sebagai teman bermain dan belajarnya anak-anak.

Saya sempat merasa kewalahan karena tidak bisa membagi fokus antara hobi dan tugas wajib rumah tangga. Saya benar-benar merasakan hampa di awal-awal menjalani peran ini. Saya merasa..ini bukan Saya banget!

Kemudian ketika baru memiliki anak, urusan tambah runyam. Saya belum selesai memahami peran sebagai istri. Ditambah peran baru sebagai ibu, membuat emosi Saya naik turun bak roller coaster. Saya belum cukup baik mengelola emosi negatif sehingga Saya merasakan lelah yang amat sangat.

Beberapa bulan Saya sempat berada di titik terendah. Saya merasa gagal untuk menjadi ibu yang sempurna. Semua yang Saya lakukan seperti tidak ada gunanya, Saya merasakan betul bagaimana hancurnya hati Saya melihat berat badan anak Saya (Arza) stagnan bahkan terjun bebas. 

Saya takut dengan penilaian banyak pihak tentang bagaimana Saya merawat anak. Saya sadar bahwa itu bukan ranah kendali Saya. Sebaiknya tidak perlu diambil pusing. Yang perlu Saya lakukan adalah evaluasi dan aksi.

Saya perlu fokus pada solusi dan tidak terpuruk dalam masalah. Alhamdulillah, Saya punya partner yang super sabar dan mengerti bagaimana merespon inner child negatif Saya.

Peran orang terdekat dalam hal ini Suami, sangat-sangat membantu proses Saya menjalani hiruk pikuk perjalanan menjadi new mom.

Kalap dan galau. Itu yang menjadi teman sehari-hari Saya ketika Arza mengalami GTM (gerakan tutup mulut). Bahkan Saya marah dengan keadaan saat itu yang mengharuskan Saya mengurus Arza seorang diri karena Pak Suami pergi dinas.

Saya berpikir dunia ini tidak adil. Dunia tidak berpihak kepada Saya. Saya marah dan sangat kesal karena tidak banyak yang bisa Saya lakukan. Sampai sekarang, ketika mengingat moment itu, Saya melihat sosok anak kecil dalam diri yang perlu Saya rangkul, Saya sayangi, dan Saya hargai.

Aurel Melahirkan

How to become a mother? Yang pasti menjadi ibu itu perlu kesiapan dari fisik,mental, dan psikis. Nyatanya orang yang sudah mempersiapkan menjadi ibu pun masih perlu penyesuaian dan proses menerima yang panjang sampai akhirnya yakin dengan perannya.

Nggak ada proses instan untuk menjadi seorang ibu. Bahkan kalau boleh Saya bilang, kita butuh sekolah untuk menjadi seorang ibu yang mengerti dengan peran dan kewajibannya.

Proses itu bukan dimulai saat memiliki anak, tapi dari proses memilih pasangan hidup. Ketika kita sadar harus menanggung konsekuensi dari keputusan yang kita ambil menjalani peran berumah-tangga. Seharusnya kita mencuri start agar menjalani rumah tangga ini tanpa gagap.

Aurel Melahirkan
Belajar jadi seorang ibu tidak pernah ada batas waktunya. Proses ini terjadi sepanjang hidup. Selama ada usia, kita bisa terus belajar. Memperbaiki diri dalam kaitannya dengan cara mengatur rumah tangga, mengurus anak, melayani suami, menjadi perempuan yang bebas berkarya serta berdaya.

Kita bisa melakukan apapun yang kita suka dan kita bisa. Menjadi ahli di bidang yang ingin kita geluti. Tidak mengecilkan peran bahkan menjatuhkan harga diri kita hanya karena kita tidak berkarier seperti orang pada umumnya. Kita memang banyak menghabiskan waktu di dalam rumah, tapi kita bisa produktif berkarya dari dalam rumah.

Kalau untuk memenuhi ekspektasi orang lain tentang bagaimana menjalani peran menjadi seorang ibu, maka kita tidak akan pernah mampu. Sebab yang menjadi tolok ukur sebenarnya bukanlah kita tapi kesenangan orang lain. Kita salah besar!



aurel melahirkan



Menjadi ibu yang sempurna itu angan-angan yang tidak akan pernah bisa kita gapai. Kita nelangsa. Buat apa capek- capek dan sibuk menjadi apa yang orang lain inginkan?

Dulu Saya pikir menjadi ibu itu pekerjaan yang paling mudah. Namun sekarang Saya sadar, memilih peran sebagai ibu berarti Saya mengambil tanggung jawab besar. Saya memiliki kodrat untuk hamil dan melahirkan. Saya menanggung amanah yang besar. Saya menjadi perantara kehidupan anak manusia di alam rahim dan dunia.

Beratnya perjuangan ketika hamil dan melahirkan merupakan kodrat yang Allah jatuhkan khusus kepada wanita. Allah ingin kita sadar bahwa peran kita sangatlah krusial. Kita bukan remahan rengginang. Kita ini berlian.

Masyaa Allah, ketika Saya tahu bahwa Saya hamil, Saya sangat senang. Saya bahkan sadar bahwa waktu Saya sangat sedikit untuk belajar banyak hal seputar kehamilan. Saya juga belum menyiapkan ilmu apapun seputar menyusui dan melahirkan. Saya hanya menjalani peran tanpa memperhatikan konsekuensi logis dari pilihan itu.

Saya ingin menarik napas lebih dalam. Kenapa Saya baru mulai belajar semenjak menikah?

Saya mengira bisa meng-handle emosi Saya dengan mudah ketika memiliki anak, tapi ternyata Saya masih punya PR besar yang harus diselesaikan agar tidak banyak luka yang Saya tinggalkan pada anak Saya.

Tidak mudah memang menjadi ibu. Banyak hal di luar dugaan justru membentuk mental kita menjadi ibu yang lebih tangguh.

Sesuatu yang bahkan Saya sadar akan menjalaninya, seperti hamil, menyusui, melahirkan, membesarkan anak tidak benar-benar Saya persiapkan dengan matang dan penuh perhitungan.

Ya Allah. refleksi yang mendalam ini jadi pelajaran buat Saya untuk mampu mendidik Arza dengan ilmu dan iman. Saya tidak mampu sendirian. Saya sangat paham bahwa Saya tidak mampu sendirian. Seiring dengan penyembuhan luka pengasuhan, Saya berniat untuk terus belajar memantaskan diri menjadi seorang ibu.

Meskipun masih jauh dari kata baik, setidaknya Saya berkeinginan untuk menjadi lebih baik. Saya ingin bertanggung jawab dengan pilihan Saya berumah tangga. Menjadi ibu, istri, sekaligus individu yang bermanfaat. Saya bisa!

Hmm, Saya merasa lebih enteng setelah mengeluarkan uneg-uneg ini. Saya ingin menjadi seorang pembelajar sejati. Saya akan terus menulis untuk me-release emosi yang hadir dalam bentuk rasa yang bisa Saya terima dengan netral.

Dengan begini, Saya bisa lebih mengerti apa yang sebenarnya ada dalam benak Saya selama ini. 

Lebih tepatnya ini merupakan refleksi pribadi, bagaimana menjalani peran sebagai new mom dengan sederet suka dan dukanya.



Aurel Melahirkan



Saya bahagia bisa merasakan kesedihan orang lain dan mengambil peran untuk membantu kesulitannya. Meskipun Saya merasa belum terlalu maksimal dalam membantu. Doakan Saya ya Sobi agar kuat dan mampu berbuat lebih baik untuk orang lain.

Semoga ada manfaat ya dari refleksi yang Saya ketikkan ini. Ambil baiknya aja, buang yang buruknya hehe.

Aurel melahirkan kenapa jadi Saya yang melow ya? wkwk. Semoga Aurel dan Atta siap menjalani peran baru sebagai orangtua.  Dimampukan dari segi manapun dan dimudahkan dalam pengasuhan.

Especially Aurel, semoga peran menjadi new mom bisa dinikmati dan dijalaninya dengan penuh kesadaran. Aamiin.

Yuk Sobi bantu Aamiin-kan 😄

Related Posts

5 comments

  1. MashaAllaah mb Okta...alhamdulillaah Allah berikan kenikmatan kepada kita untuk bisa merasakan suka-dukanya menjadi seorang ibu...bersyukur atas segala nikmatNya..dan sangat sepakat jika kita harus terus belajar dan belajar untuk bisa jadi madrasah terbaik untuk anak-anak kita. Semoga Allah mudahkan langkah kita untuk mendidik amanahNya...aamiin..jazakillaahu khoiro sudah memberikan cass semangaattt... :-)

    ReplyDelete
  2. Memang kalau ngomongin soal perjalanan jadi ibu bikin mbrebes mili ya mbak.. aku ngikutin banget nih journeynya si Aurel sampai baby A lahir.

    ReplyDelete
  3. MasyaAlloh mba, mbrebes mili karna saya juga pernah ada di posisi itu, merasa kelelahan yang teramat sangat, sampe takut punya anak lg. Alhamdulillah sekarang sedikit demi sedikit berproses utk menjadi lebih baik. Semangaaat juga buat bunda bunda yang lain.

    ReplyDelete
  4. Yes ,benar sekalienjadi ibu muda atau ibu baru itu tidak mudah , banyak sekali dikiran ini itu bikin fikiran kita gak nyaman akhirnya efecnya kepada pwrtumbuhan bayi itu sendiri ,dan support sistem dari orang terdekat memang sangat berperan ,,semangat ibu baru..ibu menyusuai semoga Allah selalu meridhoi...

    ReplyDelete
  5. Masyaaa Allah tulisannya menginspirasi☺️

    ReplyDelete

Post a Comment