oktaviawinarti.com

Mbak Etha: Seorang Mualaf yang Hobi Menulis

1 comment
Konten [Tampil]

 

Mbak Etha Henrieta


Assalamu'alaykum Sobi!

Di kelas KBB Blogspedia minggu lalu, Saya dapet tugas dari Coach Ririt untuk menulis profil seorang teman. Karena di kelas ini hanya ada 4 orang saja, maka Saya dipasangkan dengan Mbak Etha. 

Berkenalan dengan ibu 4 orang anak ini, membuat Saya kecipratan banyak banget hikmah. Melihat judulnya, Sobi pasti penasaran dong apa yang membuat Mbak Etha memutuskan untuk 'pindah deen'. Adakah titik balik sehingga wanita kelahiran Semarang ini memilih istiqomah menjalani peran sebagai seorang muslimah? Terus apa sih yang membuat doi suka aktifitas menulis ?

Sejujurnya, Saya ingin membagikan kisah Mbak Etha a.k.a Henrieta Dian Cristiyanti sebagai bekal kita mengarungi kehidupan yang fana ini. Masyaa Allah, tidak ada kata selain memuji nama Allah ketika mendengar langsung drama kehidupan Mbak Etha.

Sebelum banyak mengulik tentang kisah hijrah Mbak Etha, yuk kita kenalan dulu sama doi!

Profil Mbak Etha

Ketika ditanya apa arti dari Henrieta, doi agak terkekeh sebab artinya adalah ibu rumah tangga. Status yang sedang disandangnya saat ini.

Mbak Etha merupakan seorang mualaf sejak tahun 2005. Saat ini ia menjalani kehidupan sebagai istri dari Mas Dwi Putra Tunggal (suami dari pernikahannya yang kedua) dan seorang ibu yang dikaruniai 4 orang anak, yaitu Eryan (16 tahun), Jihan (9 tahun), Abbyan (5 tahun), dan Hanan (6 bulan). 

Mbak Etha punya ketertarikan pada dunia kepenulisan. Wah! Cucok meong nih sama Saya hehe. Ia mengaku sering menulis diary sejak remaja. 

profil singkat mbak etha


Menurutnya, menulis merupakan 'wadahnya' untuk menuangkan segala hal. Dengan menulis, ia juga bisa berbagi sesuatu. Oleh karena itu, supaya bisa berbagi tulisan yang bagus dan bermanfaat, ia juga rajin belajar dari berbagai sumber sehingga pengetahuannya pun bertambah.

Mbak Etha meluangkan waktu untuk menulis disela-sela aktivitasnya menjadi seorang ibu, karena itu merupakan mood booster banget untuknya. Menulis membuat harinya terasa lebih enteng dan capeknya berkurang. Menulis juga jadi sarana me time ternyaman untuknya.

Nah di blog perdananya mygalerytha.com, Mbak Etha akan bercerita tentang banyak hal, terutama tentang minatnya di dunia parenting dan kajian islam.

Blog Mbak Etha

Related: Flashback Suka Duka Jadi New Mom

Nah, lanjut ya Sobi..

Kali pertama bertemu dengan sosok Mbak Etha, Saya langsung terpukau. Sebab orangnya down to earth alias rendah hati. Baiiiik banget. Entah kenapa obrolan kami nyambung. Apalagi soal....bentar lagi kita bahas ya hehe.

Disclaimer: Saya tidak menyarankan Sobi yang punya pengalaman traumatis untuk membaca tulisan berikutnya. Karena pada part ini, Saya akan sedikit mengulik terkait luka masa lalu yang dialami Mbak Etha. Khawatir setelah membaca, Sobi malah 'membuka luka yang masih basah'. So, STOP baca sampai sini saja ya. Tapi kalau mau dilanjut, silahkan. Efek samping ditanggung masing-masing. 

Pernah Menjadi Penyintas KDRT

Mba Etha menikah dengan mantan suaminya di usia 18 tahun. Qodarullah, diberikan kesempatan melahirkan satu tahun setelah menikah. Pada saat menikah itulah, Mbak Etha melafalkan kalimat syahadat untuk pertama kalinya.

Pilihannya untuk berpindah deen rupanya membuat jarak antara ia dan keluarganya. Sehingga, ia terpisah dari keluarganya sejak pernikahan pertamanya dengan mantan suami.

Setelah menjalani pernikahan, bukan bahagia yang didapatkannya. Ia mengaku sangat trauma dengan 'laki-laki' karena mendapat perlakuan yang kurang baik dari mantan suaminya. Qodarullah, ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sebagai penyintas, tentu kondisi kejiwaannya saat itu mempersulitnya untuk percaya lagi pada pernikahan.

Mbak Etha mengaku pernah dilukai secara fisik dan psikisnya oleh mantan suami. Ia pernah diludahi bahkan sampai pada taraf dipukul. Bagi perempuan, perlakuan kurang pantas seperti ini menjadi luka yang sangat membekas dan sulit untuk dilupakan. Sebagai sesama perempuan pun Saya amat gusar dan tidak bisa toleransi kalau ada laki-laki yang berani main fisik apalagi kepada perempuan! 

Secara psikis, Ia sering mendapatkan cacian dan kata-kata kasar seakan-akan ia adalah wanita yang kotor. Mbak Etha menggambarkan hal ini pada satu kasus, dimana ia menolak dengan baik permintaan mantan suaminya untuk berhubungan badan dikarenakan kondisinya yang sedang capek.

Mantan suaminya tidak terima dan tidak mau mendengarkan penjelasan Mbak Etha. Ia menghardik dan mengucapkan kata-kata kasar yang melukai hati Mbak Etha. Masyaa Allah...sampai sini saja Saya jadi geregetan! Masih kuat nggak Sobi? Saya lanjut ya...

Tidak sampai disitu, pada suatu kesempatan mantan suaminya juga menghardiknya dengan kata-kata yang kurang etis jika diucapkan oleh seorang suami. Untuk yang sudah menikah dan memiliki anak, tentu tahu ya kalau fisik seorang wanita itu akan berubah total setelah memiliki anak. Jadi, mengejek bentuk fisik istri apalagi membandingkannya dengan kondisi sebelum punya anak, tentu bukanlah perbuatan yang terpuji!

perjalanan hijrah mbak etha


Saya kok jadi pengen marah-marah ya. Hmmm. Sabar-sabar, tarik nafas...buang. Fiuh.

Kalo mengutip kata Mbak Etha, "Ya Alloh ngeri pokoknya, Astaghfirullah...sampe Aku takut sama yang namanya pernikahan."

Ya. Pengalaman traumatis itu menjadi lubang dalam hati yang memiliki dampak psikologis serius untuknya. Sampai-sampai saat mendapatkan undangan pernikahan dari temannya pun, ia takut dan berfikir 'ini orang kok berani nikah, padahal pernikahan itu mengerikan'. Yassarallah, semoga Mbak Etha dimudahkan Allah dalam mengobati luka masa lalunya.

Pernikahannya tidak tertolong, sampai akhirnya ia bercerai dengan mantan suaminya di tahun 2010. Hak asuh jatuh pada suaminya karena pada waktu itu ia harus bekerja. Tidak lama berselang, Ayahnya yang semula tinggal di Salatiga  kembali ke semarang dan mau menumpanginya rumah untuk tinggal. Tahun 2011, anaknya diboyong kembali ke pangkuannya dan Alhamdulillah sampai saat ini ada bersamanya.

Wasilah Hijrah dari Pertemuan dengan Suami

Pertemuan dengan suaminya yang sekarang terbilang singkat. Mereka menikah di awal tahun 2012. Kemudian dikaruniai anak kedua pada pada April 2013.

Roller coaster pernikahan tidak berhenti sampai disitu. Justru ujiannya lebih menantang ketika memulai kembali di pernikahan kedua bersama suami barunya itu. Mbak Etha mengalami pasang surut iman dan mulai mempelajari Islam lebih dalam berdua dengan pasangannya.

Hijrah dimaknainya sebagai perjalanan spiritual, dimana ia berpindah kondisi dari kejahilan (ketidak-tahuannya dengan Islam) menuju kepada kebenaran. Ia sangat terpukau dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ini. 

Awal hijrahnya tidak mudah. Ia mulai dengan menutup aurat yaitu memakai hijab. Kemudian pelan-pelan, ia memperbarui cara berpakaiannya.  Ia mencoba sepotong gamis untuk dikenakan. Karena hanya itu yang ia punya. Qodarullah, Maha Baik Allah. Ada banyak bantuan yang datang, ia pun memiliki beberapa koleksi gamis untuk dipakai. 

cerita hijrah mbak etha


Bertarung dengan Riba

Episode berikutnya, ia diuji dengan hutang riba. Ini merupakan titik balik yang pada akhirnya membuat Mbak Etha dan suami hijrah di tahun 2015. Bertarung dengan riba menjadi perjalanan hijrah luar biasa, sebab ia harus melunasi hutang yang awalnya hanya bernilai 4 juta rupiah, bertambah 8 kali lipat sampai nominal 30 juta lebih. Ini dikarenakan mereka gali lubang tutup lubang.

Ikhtiar untuk menutup itu semua dilakukan. Mulai dari berjualan nasi kucing, jadi tukang tahu keliling, dan sebagainya. Semua aset yang bernilai uang pun tak luput untuk dijual. Semua dijalani demi bisa mencicil hutang-hutang tersebut. Qodarullah, berbekal keyakinan pada Allah, tinggal melunasi sedikit lagi.

Belajar dari Ketabahan Mbak Etha

Di pernikahan yang pertama, ia merasa "dibuang" dari keluarga besarnya. Ia sadar bahwa keputusannya untuk menikah dengan ex suami akan menjadi buah bibir atau omongan di belakang. Ia mencoba berdamai dengan hal itu. Bersama dengan suaminya di pernikahan yang kedua, ia berhasil kembali lagi dan menjalin silaturahmi dengan keluarga besarnya.

Ia tetap mengunjungi kediaman Ayahnya disaat hari besar. Meskipun berbeda keyakinan, ia tidak ingin hubungan kekeluargaannya dengan Ayah terputus. Ia masih ingin berbakti. Masyaa Allah.. apa kabar diri ini padahal orangtua masih satu keyakinan?Hmm.

Mbak Etha pernah berada di titik ingin menyerah dengan kehidupan. Ia hanya memiliki 5 ribu rupiah untuk bertahan hidup, sementara anak-anaknya kelaparan sampai tengah malam.

Saat akan makan, ia membagi satu buah kerupuk menjadi dua bagian untuk anak-anaknya. Ia berkata kepada anak-anaknya, "Minta sama Allah supaya kerupuk ini mengenyangkan perut kalian sampai besok pagi," Masyaa Allah.

Dengan meminta kepada Allah dalam keadaan sempit dan lapang mampu menguatkan kita melalui ujian hidup. Mbak Etha merasa kok seperti ini banget hidupnya. Tapi kemudian ia sadar, dengan diberi kesulitan dan kelaparan, justru akan mendekatkannya dengan Allah.

Ujian demi ujian menghantam, semakin membuatnya penasaran dengan deen ini. Ia pantang melewatkan membaca Al-Quran setiap hari. Meskipun belum lancar membaca huruf arab, ia tetap membaca artinya. Saking ingin tahu lebih dalam isi Al-Quran. 

Masyaa allah.. Saya yang orang islam dari lahir jadi malu dengar cerita Mbak Etha ini. Sudah berapa lembar mushaf yang Saya baca hari ini? Padahal sudah hafal huruf hijaiyah dan bisa melafalkannya. Hiks....Semoga kita bisa mengambil ibrohnya ya Sobi!

Pesan untuk Single dan yang Sedang Menjalani Pernikahan 

Setelah melalui 2 kali pernikahan dengan segala dramanya, ada pesan yang ingin disampaikan oleh Mbak Etha. Ini Saya sih yang request. Hehe. Karena setelah menyimak kisah hidupnya, Saya jadi berkaca pada pernikahan Saya sendiri.

Mbak Etha bilang semua harus dipersiapkan sejak memilih pasangan. Karena efek dari memilih pasangan hidup ini akan panjang sekali. Kita akan menjalani hidup dengan ia yang kita pilih dan akan menentukan perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Ini juga efeknya smapai kepada pengasuhan anak. Kita harus kompak mengasuh anak. Karena anak-anak butuh figur yang baik untuk ditiru.

Untuk yang baru menjalani pernikahan, InsyaAllah akan dimudahkan Allah. Asalkan kita mau berikhtiar. Saling menguatkan iman, berkomunikasi yang efektif, dan saling terbuka.

Laki-laki pezina akan dipasangkan dengan perempuan pezina, pun laki-laki beriman akan dipasangkan dengan perempuan beriman. Jadi..pesan dari Mbak Etha. Perbaiki diri dulu, insyaa Allah kita akan dipertemukan dengan jodoh yang sefrekuensi.

Sembuh dari Luka

Kehadiran suami sangat mempengaruhi kondisi kejiwaan Mbak Etha. Lukanya berangsur pulih. Qodarullah, Allah memilihkan suaminya sebagai partner sejiwa yang mengerti betul keadaannya. Bisa menerima segala kekurangan Mbak Etha.

Ia sangat bersyukur karena Allah sangat adil kepadanya. Setelah banyak badai yang ia lalui, Allah memberikannya sosok berupa sahabat, teman, kakak, orangtua, yang itu semua ada pada suaminya. Paket komplit katanya mah. Masyaa Allah.

Mbak Etha tumbuh tanpa belai kasih Ibu. Orangtuanya bercerai ketika ia masih balita. Ia juga kurang dekat dengan Ayahnya. Etha kecil diasuh oleh kakek neneknya sampai beranjak dewasa. Setelah kakek neneknya meninggal, ia kehilangan sosok Ayah dan Ibu. Itu yang menyesakkan dadanya. Sampai akhirnya Allah pertemukan dia dengan suaminya sebagai 'obat' dari kesepiannya.

Mereka berikhtiar untuk menerapkan pola pengasuhan terbaik untuk anak-anaknya. Karena tidak ingin mengulang kesalahan seperti yang dilakukan orangtua mereka di masa lalu.

Pengikat Makna

Mbak Etha adalah seorang figur yang membuat Saya sadar bahwa setiap orang itu dibekali kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Setiap ujian itu ada solusinya. Yang penting adalah keyakinan kalau kita bisa melaluinya, Allah akan memudahkan kita asalkan kita berikhtiar dan tawakal.

Salah satu ayat yang menguatkan Mbak Etha ketika dihantam dengan ujian yang bertubi-tubi adalah Surah Al-Insyirah ayat 6. 


اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ؕ‏

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.

Allah mengingatkan kita bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. Kita disuruh yakin sama firman Allah tersebut. Cuma itu. 

Inspirasi dari Mbak Etha


Buat Saya, Mbak Etha termasuk orang yang punya resiliensi yang tinggi. Itu adalah sebuah prestasi. Mungkin nggak disadari. 

Karena prestasi itu bukan kita dapet piala, menang kejuaraan, dapet predikat lulusan terbaik, keterima di perusahaan, punya omzet miliaran, dan sebagainya.

Mereka yg dibenturkan dengan ujian hidup yang bertubi-tubi, mampu melewatinya meskipun sampai terseok-seok, dan berhasil melaluinya dengan tetap mencari rahmat dan petunjuk Allah.. Itu prestasi buat Saya.

Dan Mba Etha punya itu..Masyaa Allah. Semoga kita bisa belajar banyak ya dari kisah ini. 

Soal ketabahan hati, kemandirian, daya juang.

Mungkin banyak dari kita lupa ketika diberi ujian. Mungkin banyak dari kita mengeluh karena beratnya ujian yang dihadapi. Ingat-ingat lagi bagaimana kita mulai merangkak dalam memperbaiki diri.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat agar kita semakin semangat menjadi versi terbaik diri. Masyaa allah tabarokallah.. 

Demikian Sobi. Kita doakan bersama ya agar Mbak Etha dan keluarga tetap berada dalam ketaatan dan perlindungan Allah. Aamiin Yaa Mujibasailin. 

Note: Kisah di artikel ini boleh dipublish karena sudah melalui persetujuan dari yang bersangkutan. 

Related Posts

1 comment

Post a Comment