oktaviawinarti.com

Tantangan 30 Hari Day 17 - Tahap Kepompong Kelas Bunda Cekatan

Konten [Tampil]

tantangan 30 hari

 

Hari ini belum ada perubahan, Saya masih berkutat dengan prioritas utama Saya yaitu menjaga Arza yang sedang sakit.

Baru kali ini Saya menghadapi Arza yang sedang diare sampai dehidrasi parah. Saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Sehingga Saya perlu fokus, menjaga konsentrasi dan perhatian Saya kepadanya.

Menyiapkan segala kebutuhannya seperti makan, minum, obat-obatan, serta menghiburnya. Hari yang panjang sekaligus melelahkan. Tapi kudu strong dan sabar.

tahap kepompong

Ngapain Aja Hari Ini?

Qodarullah hari ini Saya bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan sahur. Kemudian sisa waktunya Saya gunakan untuk menyusun strategi dengan Pak Suami untuk menyiapkan segala kebutuhan Arza.

Fokus kami hanya satu itu saja. Pak Suami juga jadi nggak konsentrasi karena kejadian ini, padahal ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Masyaa Allah. Hari ini benar-benar menguras energi, baik secara fisik dan emosi. Saya kewalahan menghadapi Arza yang sering tantrum, menyuapi makanan yang selalu berujung nggak jadi makan karena nggak cocok rasanya di mulut Arza, bingung karena Arza nggak mau minum obat. Masyaa Allah, sampai di titik Saya ingin meluapkan amarah. Saya ngerasa ini bentuk respon error.

Qadarallah.. Atas izin Allah Saya bisa menyadari ketidakberesan dalam diri ini dan Saya perlu mengapresiasi diri. Karena sudah melalui hari ini dengan sabar yang cukup. Mengerti kalau "luka batin" bukan lagi sebuah pembenaran untuk memarahi anak. 

tantangan 30 hari berturut-turut

Menulis Doa untuk Ramadan Tahun Ini

Tahun lalu Saya tidak merasakan kenikmatan berpuasa karena masih menyusui. Dan tahun ini, taraaaa...diberikan kenikmatan yang Masyaa Allah. Saya bisa merasakan puasa selama 10 hari dengan segala nano-nano rasanya.

Untuk Saya yang baru berumah tangga dan punya toddler, tentu ini hal pertama yang sangat berkesan sekaligus menegangkan.

Benar-benar ujian iman untuk bisa sabar dan nggak terpancing emosi. Arza yang usianya 2 tahun berada di fase sering tantrum. 

Aneh rasanya ketika melihat anak sedang teriak dan menangis, dada Saya malah sesak. Awalnya Saya denial. Oh mungkin karena kepancing emosi. Tapi lama-lama ini semakin mengganggu.

Bukannya fokus untuk menenangkan anak, Saya malah perlu menenangkan diri dulu. Butuh waktu untuk menangani gejolak rasa yang ada di dalam dada. #kokkayakliriklaguya😅

Saya seperti pernah merasakan ini dalam kondisi tertekan, cemas, dan marah. Dada sesak, mulut terkunci, mata merah, pusing dan mual.

Kalau sudah di ambang normal, Saya bisa merusak barang yang ada di sekitar atau kabur dari rumah. Kayak sinetron amat yak? Hmm..kenyataannya memang begitu. Sulit untuk berpikir rasional, karena dominan hawa nafsu.

Okeh, prolognya kepanjangan. Intinya Saya perlu untuk memperbaiki respon error tersebut. Saya tahu betul kalau itu pekerjaan seumur hidup. Time can heal. Saya punya keinginan untuk bisa merespon kejadian dengan hati yang tenang tanpa ada efek samping seperti yang Saya sebutkan tadi.

Di ramadan tahun ini, Saya menulis daftar doa untuk memperbaiki kehidupan Saya pribadi serta hubungan dengan Allah dan semua orang di sekeliling Saya.

Menuliskan ini membuat Saya tenang dan bisa bernafas sejenak dari badai emosi yang datang. Alhamdulillah. 

Apakah Saya akan Lanjut Menulis di Blog?

Oh tentu. Awalnya Saya punya keinginan untuk menulis artikel populer setiap hari di blog ini. Tapi Saya sadar butuh jam terbang untuk mengasah keterampilan menulis sekali duduk jadi. Selama ini Saya menulis di pagi hari tapi masih dalam bentuk draft.

Buat Saya itu nggak masalah. Selama Saya enjoy melakukannya nggak apa-apalah. Siapa sih yang mau menilai?

Untuk saat ini Saya ingin fokus dulu menemani Arza sampai sembuh total. Saya nggak mau ada beban pikiran untuk menyelesaikan tulisan. Karena jadi mental load. Selesaikan satu persatu. YES!

Kalo kata coach Marita, salah satu guru ngeblog Saya. Kualitas tulisan kita ketika lagi nggak fokus hati ngegrundel akan beda dengan kualitas tulisan ketika kondisi hati kita tenang.

Analisis sederhana Saya mungkin kita akan sulit berpikir jernih karena didominasi oleh hawa nafsu. Kita nggak fokus bernalar karena pikiran kita kepenuhan. Ide-ide brilian nggak akan keluar deh. 

Insight

Saya menyadari jika emosi Saya masih labil. Hari ini pun Saya kelepasan nggak bisa menahan amarah.

Saya nggak bisa menulis dengan pikiran yang jernih kalau keadaan jiwa Saya nggak baik atau nggak tenang. 


Related Posts

Post a Comment