oktaviawinarti.com

Efek Traumatis Akibat Gigitan Ular Sampai Ophidiophobia

Konten [Tampil]
Efek traumatis Akibat Gigitan Ular


Suamiku pernah cerita kalau doi sangat takut dengan ular. Selain karena bisanya yang membahayakan, ular merupakan hewan yang bikin doi trauma. Usut punya usut, waktu kecil doi pernah dikerjain sama genk mainnya. Doi ditakut-takutin sama ular. Sampai sekarang, efek traumatis akibat gigitan ular sawah masih dirasakan olehnya. 

Hal itu berdampak pada kondisi psikologisnya, ia menjadi phobia terhadap ular. Melihat ular yang mati pun ia akan lari terbirit-birit. Sebenarnya apakah ada hubunga antara efek traumatis gigitan ular dengan phobia? Lantas, apa bedanya trauma dengan phobia yang dialaminya?

Nah, pada artikel ini Saya mau ulik sedikit pengalaman Pak Suami yang tiba-tiba dihadapkan dengan pengalaman traumatisnya tersebut. Sedikit banyak membuka wawasan Saya juga terhadap makhluk melata ciptaan Allah ini.

Untuk tahu lebih lanjut apa saja beda trauma dan phobia, gejala trauma dan phobia, serta cara mengatasi efek traumatis akibat gigitan ular, Sobi bisa baca sampai akhir artikel ini yes.

Pengalaman Pak Suami Menghadapi Trauma

Suatu malam ketika Pak Suami sedang mengerjakan tugas kantornya, ada seekor ular masuk ke dalam rumah. Ular itu papasan dengan Pak Suami yang kebetulan sedang duduk di kasur menghadap pintu kamar. 

Nggak usah ditanya ya kagetnya kayak apa. Tubuhnya panas dingin, gemetar, deg-degan, dan doi kepikiran terus 'heh, lu kenapa ada di depan gue sih?'. Pun dengan si ular, ia meliuk-liuk di atas lantai dan auto-ngumpet karena terkejut melihat perawakan Pak Suami yang lebih besar daripada dia.

Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, akhirnya doi beranjak dari atas kasur dan menghampiri ular yang sedang ngumpet di balik container berisi mainan Arza.

Doi mengambil sapu dan memukul-mukul si ular sampai ular itu pingsan. Doi ngerasa puas bin deg-degan karena berhasil membuat ular itu terkapar. Sebetulnya ia nggak paham itu ular pura-pura pingsan atau beneran pingsan. Akhirnya dipukul-pukul-lah kepala ular itu sampai koid.

Mau tau nggak penampakan ularnya?

cara mengatasi trauma psikologi
Sumber foto: Detik News


Namanya ular sawa emprit. Mungkin karena waktu itu hujan deras sehingga ular tersebut terbawa arus air masuk ke got-got perumahan. Rumah kami memang dekat dengan area persawahan dan perbukitan, jadi nggak heran banyak hewan-hewan dari ekosistem sawah yang masuk ke rumah.

Nah, si ular ini ukurannya lumayan ramping dan punya kepala seukuran jempol kaki. Tapi namanya melihat ular, Pak Suami tetap takut. Karena keberadaan ular itu ada di rumah dan ia punya anak dan istri yang harus dilindungi, akhirnya doi pun punya motivasi lebih untuk mengakhiri hidup si ular.

Setelah menghabisi nyawa si ular, Pak Suami membuang ular itu ke tempat asalnya (sawah). Apakah udah kelar? Ternyata doi nggak bisa tidur sampai pagi dongg. Doi masih deg-degan dan terbayang-bayang pertempurannya dengan si ular. Paginya, doi cerita ke Saya gimana pengalamannya berurusan dengan ular, penyebab traumanya itu.

Dari obrolan tersebut, Saya mengetahui bahwa sebenarnya doi juga pernah berhadapan dengan ular sewaktu masih nge-kost. Itu pengalaman yang bikin doi bergidik karena yang dihadapinya adalah ular kobra. Kalau dilihat dari ukurannya, masih bayi sebenarnya. Tapi karena trauma pernah digigit ular, doi takut dan nggak berani kalau menghadapinya seorang diri.

Untungnya ada teman satu kost yang waktu itu mau menolongnya setelah Pak Suami teriak S.O.S. Saya jadi ngebayangin betapa paniknya doi. Pasti bakalan terngiang-ngiang terus dalam ingatan.

Efek Trauma Akibat Ular
Sumber foto: Grid.ID



Apa itu Trauma?


Cerita dari Pak Suami ini apakah termasuk jenis trauma? Kalau berdasarkan pengertian trauma itu sendiri. Kemungkinan besar iya. 

Menurut American Psychological Association (APA), seseorang dapat mengalami trauma sebagai respons terhadap setiap peristiwa yang mereka anggap mengancam atau berbahaya secara fisik atau emosional.

Secara emosional, ia akan merasakan berbagai macam emosi seperti merasa overwhelmed, tidak berdaya, shocked, dan sulit memproses pengalamannya. Gejala fisik juga dialami orang yang memiliki trauma seperti deg-degan, susah tidur, bahkan gerd.

Jelas banget ya dari paparan APA, kasusnya Pak Suami termasuk peristiwa traumatis yang mempengaruhi emosionalnya. Bayangin dong gara-gara ketemu makhluk bersisik itu, doi jadi nggak bisa tidur sampai pagi. Kepikiran terus euy.

Mau lanjutin lagi nih. Kalau gejalanya menetap dan nggak berkurang tingkat keparahannya, trauma bisa berkembang menjadi gangguan kesehatan mental yang disebut Post-Traumatic Stress Disorder atau gangguan stres pascatrauma (PTSD).

Kalau melihat dari kasusnya Pak Suami, PTSD kayaknya enggak ya. Buktinya sampai saat ini Pak Suami sangat enjoy dengan hidupnya. Dan kejadian itu nggak sampai mengganggu aktivitas sehari-harinya.

Apa itu Ophidiophobia?

Ophidiophobia adalah salah satu jenis phobia yang spesifik. Orang yang mengalami ini akan takut berlebihan dan tidak rasional terhadap ular. 

Apa perbedaan Trauma Digigit Ular dengan Phobia Ular?

Trauma digigit oleh ular itu termasuk penyebab timbulnya ophidiophobia. Namun perbedaannya adalah trauma digigit ular berbeda dengan trauma psikologis pada umumnya. Dimana korban trauma biasanya terguncang, hilang arah, serta mengalami kecemasan berlebih hampir sepanjang waktu.

Sedangkan pada phobia, gejala yang muncul tidak menyebabkan korbannya itu cemas sepanjang waktu. Tapi hanya pada situasi tertentu dan objek tertentu yang menjadi sumber phobia.

Hal paling mencolok lainnya adalah trauma psikologis dapat membuat kualitas hidup menurun sebab setiap waktu terbayang-bayang kejadian buruk yang pernah dialami. Sehingga gejala psikologis yang muncul dapat mempengaruhi aktivita sehari-hari.

Contoh trauma psikologis yang pernah Saya tulis bisa Sobi baca pada artikel Saya yang berjudul Mbak Etha: Seorang Mualaf yang Hobi Menulis.

Apa Gejala Trauma?

Peristiwa traumatis itu membuat kehidupan seseorang jadi lebih emosional. Mungkin karena efeknya jangka panjang sehingga kalau tidak diatasi dan dibiarkan saja, bisa mempengaruhi kesejahteraan hidupnya.

Gejala atau respon emosional dan psikologis seseorang yang mengalami trauma diantaranya:
  • merasa ada penolakan atau pergolakan dalam jiwanya
  • merasakan amarah, bahkan menjurus kepada benci dan dendam
  • merasa takut, cemas, dan bingung
  • merasakan kesedihan, keputusasaan, malu, dan merasa bersalah
  • mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi
  • merasa depresi
  • sulit meregulasi emosi
  • menarik diri dari pergaulan.

Sementara gejala fisik bisa mengikuti gejala emosional dan psikologisnya, yaitu:
  • sakit kepala
  • gejala pencernaan seperti gerd
  • kelelahan
  • deg-degan atau jantung berdebar
  • berkeringat
  • merasa gelisah
  • mengalami hyperarousal (merasa seolah-olah berada dalam keadaan selalu waspada)
  • sulit tidur


Apa Gejala Ophidiophobia?

Untuk kasusnya Pak Suami, gejala yang dialaminya memang nggak mengarah pada kecemasan berlebih atau sampai bikin doi depresi gara-gara seekor ular. Tapi akan bereaksi seperti gejala berikut ini saat dihadapkan pada situasi yang berkaitan dengan ular:
  • Berkeringat
  • Gemetar
  • Cemas
  • Takut
  • Panik
  • Cemas
  • Pusing
  • Mual
  • Sesak napas

Cara Mengatasi Trauma Digigit Ular

Saya sudah merangkum beberapa cara yang bisa jadi cocok dan efektif untuk diterapkan bagi Sobi yang punya pengalaman traumatis dengan ular. Beberapa hal ini merupakan penglaman personal dari Pak Suami.

1. Terapi paparan

Terapi ini dilakukan dengan memperlihatkan gambar atau video ular kepada orang yang ophidiophobia. Dari sini, terapis akan menanyakan kepada kita apa yang dirasakan. Respon emosional apa yang muncul ketika melihat dan mendengar suara ular. Respon fisik seperti apa yang terjadi saat dipaparkan gambar atau video tentang ular tersebut..

Alhamdulillah, Pak Suami nggak takut kalau dikasih liat gambat atau video tentang ular. Tapi doi bakalan takut banget kalau ketemu langsung sama ularnya. Auto-ngibrit. Meskipun jaraknya masih jauh.

Ini Saya sadari ketika kami sekeluarga sedang menemani Arza bermain di taman bermain anak. Ada sekelompok pecinta ular yang sedang nongki di situ bersama ular-ularnya. Agak horor melihat perawakan ularnya.

Nah, Pak Suami nggak mau lihat dan berputar balik untuk tidak melewati kerumunan anak-anak yang sedang melihat ular albino. Haha antara kasian sama kocak sih. 

Trauma dengan Ular
Sumber foto: Ragunan Zoo Jakarta


2. Terapi kognitif dan perilaku

Pada terapi ini, pola pikir atau sudut pandang yang keliru terhadap ular akan diubah. Kita diberikan pengetahuan atau wawasan seputar ular. 

Dari terapi ini, diharapkan orang phobia dengan ular bisa memandang bahwa ular merupakan hewan normal dan bukan objek yang mengerikan.

Nah, Saya jadi paham beberapa hal tentang ular karena phobia yang dialami Pak Suami. Setiap ada sesuatu seperti pohon bambu, lubang-lubang di sawah yang kita lewati, Pak Suami langsung berceloteh wawasan seputar ular. Doi nggak takut bahas ciri-ciri dan perilaku reptil tersebut.

Tapi doi mengaku sampai saat ini belum merasa pulih total dari ketakutannya dengan ular. Ketika melihat ular, masih terasa gejala-gejala fisik yang dialami meskipun tidak sampai histeris.

Kalau Sobi merasa pernah mengalami hal serupa boleh dong share pengalamannya menghadapi efek traumatis akibat gigitan ular. Siapa tahu yang lagi mengalami bisa terbantu. Semoga bermanfaat yaa.. Jazakillah khair :D


Referensi:
Pengalaman Personal Pak Suami
Alodokter
Medical News Today
kamuspsikologi.com

Related Posts

Post a Comment