oktaviawinarti.com

Teman Dalam Diam [III]

Konten [Tampil]

Hei?
Kau sedingin es di kutub.
Wajahmu kusut.
Bolehkah aku bertanya?
Apakah kau masih berat hati mengungkapkan pengakuanmu?
Tak apa. Sungguh tak apa.
Memang, aku pun belum mengerti bagaimana rasanya mencari penghidupan di negeri ini.
Terlalu banyak hal yang aku impikan dengan fasilitas yang diberikan orang tuaku.
Senang rasanya mendengarkan kau bercerita suka dukamu di balik ruang operasi.
Bahkan kau rela tak memejamkan mata demi menunggui pasienmu.
Sedikit banyak yang kau ceritakan, mampu membuat tulang-tulangku untuk bergerak. Dan setidaknya bertindak sesuatu sebagai balas jasa dari orang tuaku.
.
Hei?
Bukankah sudah ada kabar darinya yang kau kagumi?
Aku sangat rindu tentang terselubungnya perasaan itu yang tiap hari kau curahkan.
Mungkin bisa jadi pengalih topik yang membuat kita menjadi bersitegang ini.
Ya, inilah yang paling bisa membuatmu menjadi dirimu yang apa adanya.
.
Paling tidak ada satu hal yang tak luput dari ingatanmu.
Bahwa perempuan baik akan dipertemukan dengan lelaki yang baik.
Alasan lain yang dapat kujadikan dalih agar kau mau mengerti.
Sederhana memang,tapi apakah sesederhana urusan penghidupan versimu?Mungkin tidak.
.
Aku semakin berhati-hati.
Maaf bukan maksudku untuk membagi jarak antara kita.
Namun yang kulakukan sesederhana alasanmu untuk mengabaikan sedikit kalimatku yang menyakitimu.
Ruang untukmu berefleksi dengan  ayat-ayatNya.
Aku tidak akan menghindar, aku ingin dekat denganmu.
Dengan caraku yang seperti ini kuharap kau mau mengerti.

Related Posts

Post a Comment